<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>PENDIDIKAN ISLAM WIDI PUNYA</title>
	<atom:link href="http://wdpunya.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wdpunya.wordpress.com</link>
	<description>Tetaplah Bermimpi Menggapai Dunia</description>
	<lastBuildDate>Sat, 23 May 2009 14:37:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='wdpunya.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/25eced17b7c1ee4db8485671297398cf?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>PENDIDIKAN ISLAM WIDI PUNYA</title>
		<link>http://wdpunya.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://wdpunya.wordpress.com/osd.xml" title="PENDIDIKAN ISLAM WIDI PUNYA" />
	<atom:link rel='hub' href='http://wdpunya.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pedidikan Islam</title>
		<link>http://wdpunya.wordpress.com/2009/01/15/pedidikan-islam/</link>
		<comments>http://wdpunya.wordpress.com/2009/01/15/pedidikan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 16:13:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wdpunya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[arti pendidikan islam]]></category>
		<category><![CDATA[konsep pendidikan islam]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum pendidikan islam]]></category>
		<category><![CDATA[makna pendidikan Islam]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan islam]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah pendidikan islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wdpunya.wordpress.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum membahas tentang pengertian pendidikan Islam, terlebih dahulu membahas apa itu pendidikan? Menurut M.J. Langeveld ; &#8220;Pendidikan merupakanupaya manusia dewasa membimbing yang belum kepada kedewasaan [Kartini Kartono,1997:11]. Ahmad D.Marimba, merumuskan pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh sipendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani siterdidik menuju terbentuknya keperibadian yang utama [Ahmad D. Marimba, 1978:20]. Demikian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wdpunya.wordpress.com&amp;blog=5401590&amp;post=137&amp;subd=wdpunya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong> Sebelum membahas tentang pengertian pendidikan Islam, terlebih dahulu membahas apa itu pendidikan? <span id="more-137"></span>Menurut M.J. Langeveld ; &#8220;Pendidikan merupakanupaya manusia dewasa membimbing yang belum kepada kedewasaan [Kartini Kartono,1997:11]. Ahmad D.Marimba, merumuskan pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh sipendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani siterdidik menuju terbentuknya keperibadian yang utama [Ahmad D. Marimba, 1978:20]. Demikian dua pengertian pendidikan dari sekian banyak pengertian yang diketahui. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor : 2 Tahun 1989, &#8220;pendidikandirumuskan sebagai usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi perannya di masa yang akang datang. Sedangkan, &#8220;pendidikan dalam pengertian yang luas adalah meliputi perbuatan atau semua usaha generasi tua untuk mengalihkan [melimpahkan] pengetahuannya, pengalamannya, kecakapan serta keterampilannya kepada generasi muda, sebagai usaha untuk menyiapkan mereka agar dapat memenuhi fungsi hidupnya, baik jasmaniah maupun rohaniah [Zuhairin, 1985:2]. <!--more-->Para ahli Filsafat Pendidikan, menyatakan bahwa dalam merumuskan pengertian pendidikan sebenarnya sangat tergantung kepada pandangan terhadap manusia; hakikat, sifat-sifat atau karakteristik dan tujuan hidup manusia itu sendiri. Perumusan pendidikan bergantung kepada pandangan hidupnya, &#8220;apakah manusia dilihat sebagai kesatuan badan dan jasmani; badan, jiwa dan roh, atau jasmani dan rohani? Apakah manusia pada hakekatnya dianggap memiliki kemampuan bawaan [innate] yang<br />
menentukan perkembangannya dalam lingkungannya, atau lingkungannyalah yang menentukan [domain] dalam perkembangan manusia? Bagimanakah kedudukan individu dalam masyarakat? Apakah tujuan hidup manusia? Apakah manusia dianggap hanya hidup sekali di dunia ini, ataukah hidup lagi di hari kemudian [akhirat]? Demikian beberapa pertanyaan filosofis&#8221; yang diajukan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas , memerlukan jawaban yang<br />
menentukan pandangan terhadap hakekat dan tujuan pendidikan, dan dari sini juga sebagai pangkal perbedaan rumusan pendidikan atau timbulnya aliran-aliran pendidikan seperti; pendidikan Islam, Kristen, Liberal, progresif atau pragmatis, komunis, demokratis, dan lain-lain. Dengan demikian, terdapat keaneka ragaman pendangan tentang pendidikan. Tetapi, &#8220;dalam keanekaragaman pandangan tentang pendidikan terdapat titik-titik persamaan tentang pengertian pendidikan, yaitu pendidikan dilihat sebagai suatu proses; karena dengan proses itu seseorang [dewasa] secara sengaja<br />
mengarahkan pertumbuhan atau perkembangan seseorang [yang belum dewasa]. Proses adalah kegiatan mengarahkan perkembangan seseorang sesuai dengan nilai- nilai yang merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas. Maka, dengan pengertian atau definisi itu, kegiatan atau proses pendidikan hanya berlaku pada manusia tidak pada hewan&#8221; [Anwar Jasin, 1985:2]. Dari uraian di atas, timbul pertanyaan apakah Pendidikan Islam itu? Pendidikan<br />
Islam adalah suatu pendidikan yang melatih perasaan murid-murid dengan cara begitu rupa sehingga dalam sikap hidup, tindakan, keputusan, dan pendekatan mereka terhadap segala jenis pengetahuan, mereka dipengaruhi sekali oleh nilai spritual dan sangat sadar akan nilai etis Islam [Syed Sajjad Husain dan Syed Ali Ashraf, 1986:2], atau menurut Abdurrahman an-Nahlawi, &#8220;pendidikan Islam mengantarkan manusia pada perilaku dan perbuatan manusia yang berpedoman pada syariat Allah [Abdurrahman an- Nahlawi, 1995:26].<br />
Dari pandangan ini, dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam bukan sekedar &#8220;transper of knowledge&#8221; ataupun &#8220;transper of training&#8221;, &#8230;.tetapi lebih merupakan suatu sistem yang ditata di atas pondasi “keimanan” dan “kesalehan”, yaitu suatu sistem yang terkait secara langsung dengan Tuhan [Roihan Achwan, 1991:50]. Dengan demikian, dapat dikatakan pendidikan Islam suatu kegiatan yang mengarahkan dengan sengaja perkembangan seseorang sesuai atau sejalan dengan nilai-nilai Islam. Maka sosok pendidikan Islam dapat digambarkan sebagai suatu sistem yang membawa manusia<br />
kearah kebahagian dunia dan akhirat melalui ilmu dan ibadah. Karena pendidikan Islam membawa manusia untuk kebahagian dunia dan akhirat, maka yang harus diperhatikan adalah &#8220;nilai-nilai Islam tentang manusia; hakekat dan sifat-sifatnya, misi dan tujuan hidupnya di dunia ini dan akhirat nanti, hak dan kewajibannya sebagai individu dan anggota masyarakat. Semua ini dapat kita jumpai dalam al-Qur&#8217;an dan Hadits [Anwar<br />
Jasin, 1985:2]. Jadi, dapat dikatakan bahwa &#8220;konsepsi pendidikan model Islam, tidak hanya melihat pendidikan itu sebagai upaya &#8220;mencerdaskan&#8221; semata [pendidikan intelek, kecerdasan], melainkan sejalan dengan konsep Islam tentang manusia dan hakekat eksistensinya. &#8230;Maka,..pendidikan Islam sebagai suatu pranata sosial, juga sangat terkait dengan pandangan Islam tentang hakekat keberadaan [eksistensi] manusia. Oleh<br />
karena itu, pendidikan Islam juga berupaya untuk menumbuhkan pemahaman dan kesadaran bahwa manusia itu sama di depan Allah dan perbedaanya adalah terletak pada kadar ketaqwaan masing-masing manusia, sebagai bentuk perbedaan secara kualitatif&#8221; [M.Rusli Karim, 1991:29-32]. Pendidikan berupaya untuk menumbuhkan pemahaman dan kesadaran pada manusia, maka sangat urgen sekali untuk memperhatikan konsep atau pandangan Islam tentang manusia sebagai makhluk yang diproses kearah kebahagian dunia dan akhirat, maka pandangan Islam tentang manusia antara lain: Pertama, konsep Islam<br />
tentang manusia, khsusunya anak, sebagai subyek didik, yaitu sesuai dengan Hadits Rasulullah, bahwa “anak manusia” dilahirkan dalam fitrah atau dengan &#8220;potensi&#8221; tertentu [Anwar Jasin, 1985:2]. Dalam al-Qur&#8217;an, dikatakan &#8220;tegakkan dirimu pada agama dengan tulus dan mantap, agama yang cocok dengan fitrah manusia yang digariskan oleh Allah. Tak ada perubahan pada ketetapan-Nya&#8230;..[ar-Rum : 30]. Dengan demikian,<br />
manusia pada mulanya dilahirkan dengan &#8220;membawa potensi&#8221; yang perlu dikembangkan dalam dan oleh lingkungannya. Pandangan ini, &#8220;berbeda dengan teori<br />
tabularasa yang menganggap anak menerima &#8220;secara pasif&#8221; pengaruh lingkungannya, sedangkan konsep fitrah mengandung &#8220;potensi bawaan&#8221; aktif [innate patentials, innate tendencies] yang telah di berikan kepada setiap manusia oleh Allah [Anwar Jasin, 1985:3]. Bahkan dalam al-Qur&#8217;an, sebenarnya sebelum manusia dilahirkan telah mengadakan &#8220;transaksi&#8221; atau &#8220;perjanjian&#8221; dengan Allah yaitu mengakui keesaan Tuhan,<br />
firman Allah surat al-A&#8217;raf : 172, &#8220;Ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan Adam dari sulbi mereka dan menyuruh agar mereka bersaksi atas diri sendiri; &#8220;Bukankah Aku Tuhanmu?&#8221; firman Allah. Mereka menjawab; &#8220;ya kami bersaksi&#8221; yang demikian agar kamu tidak berkata pada hari kiamat kelak, &#8220;kami tidak mengetahui hal ini&#8221; [Zaini Dahlan, 1998:304]. Apabila kita memperhatikan ayat ini, memberi gambaran bahwa setiap anak yang lahir telah membawa &#8220;potensi keimanan&#8221; terhadap Allah atau disebut dengan &#8220;tauhid&#8221;. Sedangakan potensi bawaan yang lain misalnya potensi fisik<br />
dan intelegensi atau kecerdasan akal dengan segala kemungkinan dan keterbatasannya. Selain itu, dalam al-Qur&#8217;an banyak dijumpai ayat-ayat yang menggambarkan sifat-sifat hakiki manusia yang mempunyai implikasi baik terhadap tujuan maupun cara pengarahan perkembangannya. Misalnya saja: tentang tanggung jawab, bahwa manusia diciptakan tidak sia-sia, tetapi juga potensi untuk bertanggung jawab atas perbuatannya dan sesuai dengan tingkat kemampuan daya pikul seseorang menurut kodrat atau fitrah-nya [pada al-Mu'minun:115 dan al-Baqrah:286]. Selain itu juga<br />
manusia pada hakekat dan menurut kejadiannya bersedia dan sanggup memikul amanah [pada al-Ahzab : 72]. Di samping itu, hal yang juga penting implikasinya bagi pendidikan adalah tanggung jawab yang ada pada manusia bersifat pribadi, artinya tidaklah seseorang dapat memikul beban orang lain, beban itu dipikul sendiri tanpa melibatkan orang lain [pada Faathir:18]. Sifat lain yang ada pada manusia adalah<br />
manusia diberi oleh Allah kemampuan al-bayan [fasih perkataan - kesadaran nurani] yaitu daya untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya melalui kemampuan berkomunikasi dengan bahasa yang baik [pada ar-Rahman:3-4]. Pada hadits Rasulullah, &#8220;barang siapa ingin mencapai kebahagian dunia harus ditempuh dengan ilmu dan barang siapa yang mencari kebahagian akhirat juga harus dengan ilmu, dan<br />
barang untuk mencari keduanya juga harus dengan ilmu&#8221;. Dari pandangan ini, dapat dikatakan bahwa tugas dan fungsi pendidikan adalah mengarhkan dengan sengaja segala potensi yang ada pada seseorang seoptimal mungkin sehingga ia berkembang menjadi seorang muslim yang baik. Kedua, peranan pendidikan atau pengarah<br />
perkembanagan. Potensi manusia yang dibawah sejak dari lahir itu bukan hanya bisa<br />
dikembangkan dalam lingkungan tetapi juga hanya bisa berkembang secara terarah bila<br />
dengan bantuan orang lain atau pendidik. Dengan demikian, tugas pendidik<br />
mengarahkan segala potensi subyek didik seoptimal mungkin agar ia dapat memikul<br />
amanah dan tanggung jawabnya baik sebagai individu maupun sebagai anggota<br />
masyarakat, sesuai dengan profil manusia Muslim yang baik. Ketiga, profil manusia<br />
Muslim. Profil dasar seorang Muslim yang baik adalah ketaqwaan kepada Allah.<br />
Dengan demikian, perkembangan anak haruslah secara sengaja diarahkan kepada<br />
pembentukan ketaqwaan. Keempat, metodologi pendidikan. Metodologi diartikan<br />
sebagai prinsip-prinsip yang mendasari kegiatan mengarahkan perkembangan<br />
seseorang, khususnya pada proses belajar-mengajar. Maka, pandangan bahwa<br />
seseorang dilahirkan dengan potensi bawaan tertentu dan dengan itu ia mampu<br />
berkembang secara aktif dalam lingkungannya, mempunyai implikasi bahwa proses<br />
belajar-mengajar harus didasarkan pada prinsip belajar siswa aktif [student active<br />
learning] [Anwar Jasin, 1985:4-5].<br />
Jadi, dari pandangan di atas, pendidikan menurut Islam didasarkan pada asumsi<br />
bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah yaitu dengan membawa &#8220;potensi<br />
bawaan&#8221; seperti potensi &#8220;keimanan&#8221;, potensi untuk memikul amanah dan tanggung<br />
jawab, potensi kecerdasan, potensi fisik. Karena dengan potensi ini, manusia mampu<br />
berkembang secara aktif dan interaktif dengan lingkungannya dan dengan bantuan<br />
orang lain atau pendidik secara sengaja agar menjadi manusia muslim yang mampu<br />
menjadi khalifah dan mengabdi kepada Allah.<br />
Bersarkan uraian di atas, pengertian pendidikan menurut al-Qur&#8217;an dan hadits<br />
sangat luas, meliputi pengembangan semua potensi bawaan manusia yang merupakan<br />
rahmat Allah. Potensi-potensi itu harus dikembangkan menjadi kenyataan berupa<br />
keimanan dan akhlak serta kemampuan beramal dengan menguasai ilmu [dunia –<br />
akhirat] dan keterampilan atau keahlian tertentu sehingga mampu memikul amanat dan<br />
tanggung jawab sebagai seorang khalifat dan muslim yang bertaqwa. Tetapi pada<br />
realitasnya pendidikan Islam, sebagaimana yang lazim dikenal di Indonesia ini, memiliki<br />
pengertian yang agak sempit, yaitu program pendidikan Islam lebih banyak menyempit<br />
ke-pelajaran fiqh ibadah terutama, dan selama ini tidak pernah dipersoalkan apakah isi<br />
program pendidikan pada lembaga-lembaga pendidikan telah sesuai benar dengan<br />
luasnya pengertian pendidikan menurut al-Qur&#8217;an dan hadits [ajaran Islam].</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>Pentingnya Pendidikan Islam</strong></span></p>
<div class="snap_preview">
<p><span style="color:#000000;">I. Pendahuluan</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Islam diturunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Untuk mengenalkan Islam ini diutus Rasulullah SAW. Tujuan utamanya adalah memperbaiki manusia untuk kembali kepada Allah SWT. Oleh karena itu selam kurang lebih 23 tahun Rasulullah SAW membina dan memperbaiki manusia melalui pendidikan. Pendidikanlah yang mengantarkan manusia pada derajat yang tinggi, yaitu orang-orang yang berilmu. Ilmu yang dipandu dengan keimanan inilah yang mampu melanjutkan warisan berharga berupa ketaqwaan kepada Allah SWT. </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Manusia mendapat kehormatan menjadi khalifah di muka bumi untuk mengolah alam beserta isinya. Hanya dengan ilmu dan iman sajalah tugas kekhalifahan dapat ditunaikan menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seluruh makhluk-Nya. Tanpa iman akal akan berjalan sendirian sehingga akan muncul kerusakan di muka bumi dan itu akan membahayakan manusia. Demikian pula sebaliknya iman tanpa didasari dengan ilmu akan mudah terpedaya dan tidak mengerti bagaimana mengolahnya menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seisinya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Sedemikian pentingnya ilmu, maka tidak heran orang-orang yang berilmu mendapat posisi yang tinggi baik di sisi Allah maupun manusia. (QS. Al Mujadilah (5 <img class="wp-smiley" src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif" alt="8)" /> : 11)</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Bahkan syaithan kewalahan terhadap orang muslim yang berilmu, karena dengan ilmunya, ia tidak mudah terpedaya oleh tipu muslihat syaithan.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Muadz bin Jabal ra. berkata: “Andaikata orang yang beakal itu mempunyai dosa pada pagi dan sore hari sebanyak bilangan pasir, maka akhirnya dia cenderung masih bisa selamat dari dosa tersebut namun sebaliknya, andaikata orang bodoh itu mempunyai kebaikan dan kebajikan pada pagi dan sore hari sebanyak bilangan pasir, maka akhirnya ia cenderung tidak bisa mempertahankannya sekalipun hanya seberat biji sawi.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Ada yang bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Ia menjawab, “Sesungguhnya jika orang berakal itu tergelincir, maka ia segera menyadarinya dengan cara bertaubat, dan menggunakan akal yang dianugerahkan kepadanya. Tetapi orang bodoh itu ibarat orang yang membangun dan langsung merobohkannya karena kebodohannya ia terlalu mudah melakukan apa yang bisa merusak amal shalihnya.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Kebodohan adalah salah satu faktor yang menghalangi masuknya cahaya Islam. Oleh karena itu, manusia butuh terapi agar menjadi makhluk yang mulia dan dimuliakan oleh Allah SWT. Kemuliaan manusia terletak pada akal yang dianugerahi Allah. Akal ini digunakan untuk mendidik dirinya sehingga memiliki ilmu untuk mengenal penciptanya dan beribadah kepada-Nya dengan benar. Itulah sebabnya Rasulullah SAW menggunakan metode pendidikan untuk memperbaiki manusia, karena dengan pendidikanlah manusia memiliki ilmu yang benar. Dengan demikian, ia terhindar dari ketergelinciran pada maksiat, kelemahan, kemiskinan dan terpecah belah.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">II. Pentingnya Pendidikan Islam</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pendidikan merupakan kata kunci untuk setiap manusia agar ia mendapatkan ilmu. Hanya dengan pendidikanlah ilmu akan didapat dan diserap dengan baik. Tak heran bila kini pemerintah mewajibkan program belajar 9 tahun agar masyarakat menjadi pandai dan beradab. Pendidikan juga merupakan metode pendekatan yang sesuai dengan fitrah manusia yang memiliki fase tahapan dalam pertumbuhan.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pendidikan Islam memiliki 3 (tiga) tahapan kegiatan, yaitu: tilawah (membacakan ayat Allah), tazkiyah (mensucikan jiwa) dan ta’limul kitab wa sunnah (mengajarkan al kitab dan al hikmah). Pendidikan dapat merubah masyarakat jahiliyah menjadi umat terbaik disebabkan pendidikan mempunyai kelebihan. Pendidikan mempunyai ciri pembentukan pemahaman Islam yang utuh dan menyeluruh, pemeliharaan apa yang telah dipelajarinya, pengembangan atas ilmu yang diperolehnya dan agar tetap pada rel syariah. Hasil dari pendidikan Islam akan membentuk jiwa yang tenang, akal yang cerdas dan fisik yang kuat serta banyak beramal.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pendidikan Islam berpadu dalam pendidikan ruhiyah, fikriyah (pemahaman/pemikiran) dan amaliyah (aktivitas). Nilai Islam ditanamkan dalam individu membutuhkan tahpan-tahapan selanjutnya dikembangkan kepada pemberdayaan di segala sektor kehidupan manusia. Potensi yang dikembangkan kemudian diarahkan kepada pengaktualan potensi dengan memasuki berbagai bidang kehidupan. (QS. Ali Imran (3) : 103)</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pendidikan yang diajarkan Allah SWT melalui Rasul-Nya bersumber kepada Al Qur’an sebagai rujukan dan pendekatan agar dengan tarbiyah akan membentuk masyarakat yang sadar dan menjadikan Allah sebagai Ilah saja. </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Kehidupan mereka akan selamat di dunia dan akhirat. Hasil ilmu yang diperolehnya adalah kenikmatan yang besar, yaitu berupa pengetahuan, harga diri, kekuatan dan persatuan. </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Tujuan utama dalam pendidikan Islam adalah agar manusia memiliki gambaran tentang Islam yang jelas, utuh dan menyeluruh. </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Interaksi di dalam diri ini memberi pengaruh kepada penampilan, sikap, tingkah laku dan amalnya sehingga menghasilkan akhlaq yang baik. Akhlaq ini perlu dan harus dilatih melalui latihan membaca dan mengkaji Al Qur’an, sholat malam, shoum (puasa) sunnah, berhubungan kepada keluarga dan masyarakat. Semakin sering ia melakukan latihan, maka semakin banyak amalnya dan semakin mudah ia melakukan kebajikan. Selain itu latihan akan menghantarkan dirinya memiliki kebiasaan yang akhirnya menjadi gaya hidup sehari-hari.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">III. Kesinambungan dalam Pendidikan Islam</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pendidikan Islam dalam bahasa Arab disebut tarbiyah Islamiyah merupakan hak dan kewajiban dalam setiap insan yang ingin menyelamatkan dirinya di dunia dan akhirat. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai akhir hayat.” Maka menuntut ilmu untuk mendidik diri memahami Islam tidak ada istilah berhenti, semaki banyak ilmu yang kita peroleh maka kita bertanggung jawab untuk meneruskan kepada orang lain untuk mendapatkan kenikmatan berilmu, disinilah letak kesinambungan.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Selain merupakan kewajiban, kegiatan dididik dan mendidik adalah suatu usaha agar dapat memiliki ma’dzirah (alasan) untuk berlepas diri bila kelak diminta pertanggungjawaban di sisi Allah SWT yakni telah dilakukan usaha optimal untuk memperbaiki diri dan mengajak orang lain pada kebenaran sesuai manhaj yang diajarkan Rasulullah SAW.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Untuk menghasilkan Pendidikan Islam yang berkesinambungan maka dibutuhkan beberapa sarana, baik yang mendidik maupun yang dididik, yaitu:</span></p>
<p><span style="color:#000000;">1. Istiqomah</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Setiap kita harus istiqomah terus belajar dan menggali ilmu Allah, tak ada kata tua dalam belajar, QS. Hud (11) : 112, QS. Al Kahfi (1 <img class="wp-smiley" src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif" alt="8)" /> : 28</span></p>
<p><span style="color:#000000;">2. Disiplin dalam tanggung jawab</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Dalam belajar tentu kita membutuhkan waktu untuk kegiatan tersebut. sekiranya salah satu dari kita tidak hadir, maka akan mengganggu proses belajar. Apabila kita sering bolos sekolah, apakah kita akan mendapatkan ilmu yang maksimal. Kita akan tertinggal dengan teman-teman kita, demikian pula dengan guru, apabila ia sering membolos tentu anak didiknya tidak akan maju karena pelajaran tidak bertambah.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">3. Menyuruh memainkan peran dalam pendidikan</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Setiap kita dituntut untuk memerankan diri sebagai seorang guru pada saat-saat tertentu, memerankan fungsi mengayomi, saat yang lainnya berperan sebagai teman. Demikiannya semua peran digunakan untuk memaksimalkan kegiatan pendidikan.<br />
Referensi : </span></p>
<p><span style="color:#000000;">1. Tarbiyah Islamiyah Harokiyah, DR. Irwan Prayitno<br />
2. Tarbiyah Menjawab Tantangan, Mahfudz Siddiq</span></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wdpunya.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wdpunya.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wdpunya.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wdpunya.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wdpunya.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wdpunya.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wdpunya.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wdpunya.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wdpunya.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wdpunya.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wdpunya.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wdpunya.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wdpunya.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wdpunya.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wdpunya.wordpress.com&amp;blog=5401590&amp;post=137&amp;subd=wdpunya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wdpunya.wordpress.com/2009/01/15/pedidikan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4de55b423ec4c9136e043675f10c282b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wdpunya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif" medium="image">
			<media:title type="html">8)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif" medium="image">
			<media:title type="html">8)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Filsafat Pendidikan Islam</title>
		<link>http://wdpunya.wordpress.com/2009/01/15/filsafat-pendidikan-islam/</link>
		<comments>http://wdpunya.wordpress.com/2009/01/15/filsafat-pendidikan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 15:52:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wdpunya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat pendidikan islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wdpunya.wordpress.com/?p=129</guid>
		<description><![CDATA[A. Pendahuluan Diakui atau tidak, sadar ataupun tidak, kita (manusia) mempunyai ide-ide tentang benda-benda, tentang sejarah, arti kehidupan, mati, Tuhan, benar atau salah, keindahan atau kejelekan dan sebagainya. 1) Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Definisi tersebut menunjukkan arti sebagai informal. 2) Filsafat adalah suatu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wdpunya.wordpress.com&amp;blog=5401590&amp;post=129&amp;subd=wdpunya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-family:Arial;">A. Pendahuluan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Diakui atau tidak, sadar ataupun tidak, kita (manusia) mempunyai ide-ide tentang benda-benda, tentang sejarah, arti kehidupan, mati, Tuhan, benar atau salah, keindahan atau kejelekan dan sebagainya.<span id="more-129"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:17.1pt;text-align:justify;text-indent:-14.25pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">1) Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Definisi tersebut menunjukkan arti sebagai informal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:17.1pt;text-align:justify;text-indent:-17.1pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">2)  Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan yang sikap yang sangat kita junjung tinggi. Ini adalah arti yang formal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:17.1pt;text-align:justify;text-indent:-17.1pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">3) Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:17.1pt;text-align:justify;text-indent:-17.1pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">4) Filsafat adalah sebagai analisa logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:17.1pt;text-align:justify;text-indent:-17.1pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">5) Filsafat adalah sekumpulan problema-problema yang langsumg yang mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dari beberapa definisi tadi bahwasanya semua jawaban yang ada difilsafat tadi hanyalah buah pemikiran dari ahli filsafat saja secara rasio.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Banyak orang termenung pada suatu waktu. Kadang-kadang karena ada kejadian yang membingungkan dan kadang-kadang hanya karena ingin tahu, dan berfikir sungguh-sungguh tentang soal-soal yang pokok. Apakah kehidupan itu, dan mengapa aku berada disini? Mengapa ada sesuatu? Apakah kedudukan kehidupan dalam alam yang besar ini ? Apakah alam itu bersahabat atau bermusuhan ? apakah yang terjadi itu telah terjadi secara kebetulan ? atau karena mekanisme, atau karena ada rencana, ataukah ada maksud dan fikiran didalam benda .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Semua soal tadi adalah falsafi, usaha untuk mendapatkan jawaban atau pemecahan terhadapnya telah menimbulkan teori-teori dan sistem pemikiran seperti idealisme, realisme, pragmatisme.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:2.85pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Oleh karena itu filsafat dimulai oleh rasa heran, bertanya dan memikir tentang asumsi-asumsi kita yang fundamental (mendasar), maka kita perlukan untuk meneliti bagaimana filsafat itu menjawabnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-family:Arial;">B. Pengertian Filsafat pendidikan Islam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata <em>Philo</em> yang berarti cinta, dan kata <em>Sophos </em>yang berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian, filsafat berarti cinta cinta terhadap ilmu atau hikmah. Terhadap pengertian seperti ini al-Syaibani mengatakan bahwa filsafat bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan menciptakan sikap positif terhadapnya. Selanjutnya ia menambahkan bahwa filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Selain itu terdapat pula teori lain yang mengatakan bahwa filsafat berasal dari kata Arab <em>falsafah,</em> yang berasal dari bahasa Yunani, <em>Philosophia: philos</em> berarti cinta, suka (<em>loving),</em> dan <em>sophia </em>yang berarti pengetahuan, hikmah (<em>wisdom</em>). Jadi,<em> Philosophia</em> berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran atau lazimnya disebut <em>Pholosopher </em>yang dalam bahasa Arab disebut <em>failasuf.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Sementara itu, A. Hanafi, M.A. mengatakan bahwa pengertian <em>filsafat </em>telah mengalami perubahan-perubahan sepanjang masanya. Pitagoras (481-411 SM), yang dikenal sebagai orang yang pertama yang menggunakan perkataan tersebut. Dari beberapa kutipan di atas dapat diketahui bahwa pengertian fisafat dar segi kebahsan atau semantik adalah cinta terhadap pengetahuan atau kebijaksanaan. Dengan demikian filsafat adalah suatu kegiatan atau aktivitas yang menempatkan pengetahuan atau kebikasanaan sebagai sasaran utamanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Filsafat juga memilki pengertian dari segi istilah atau kesepakatan yang lazim digunakan oleh para ahli, atau pengertian dari segi praktis. Selanjutnya bagaimanakah pandangan para ahli mengenai pendidikan dalam arti yang lazim digunakan dalam praktek pendidikan.Dalam hubungan ini dijumpai berbagai rumusan yang berbeda-beda. Ahmad D. Marimba, misalnya mengatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si &#8211; terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Berdasarkan rumusannya ini, Marimba menyebutkan ada lima unsur utama dalam pendidikan, yaitu 1) Usaha (kegiatan) yang bersifat bimbingan, pimpinan atau pertolongan yang dilakukan secara sadar. 2) Ada pendidik, pembimbing atau penolong. 3) Ada yang di didik atau si terdidik. 4) Adanya dasar dan tujuan dalam bimbingan tersebut, dan. 5) Dalam usaha tentu ada alat-alat yang dipergunakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Sebagai suatu agama, Islam memiliki ajaran yang diakui lebih sempurna dan kompherhensif dibandingkan dengan agama-agama lainnya yang pernah diturunkan Tuhan sebelumnya. Sebagai agama yang paling sempurna ia dipersiapkan untuk menjadi pedoman hidup sepanjang zaman atau hingga hari akhir. Islam tidak hanya mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat, ibadah dan penyerahan diri kepada Allah saja, melainkan juga mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia termasuk di dalamnya mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur kehidupan dunia dan akhirat tersebut adalah al Qur’an dan al Sunnah. Sebagai sumber ajaran, al Qur’an sebagaimana telah dibuktikan oleh para peneliti ternyata menaruh perhatian yang besar terhadap masalah pendidikan dan pengajaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Demikian pula dengan al Hadist, sebagai sumber ajaran Islam, di akui memberikan perhatian yang amat besar terhadap masalah pendidikan. Nabi Muhammad SAW, telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup ( <em>long life education ).</em> Dari uraian diatas, terlihat bahwa Islam sebagai agama yang ajaran-ajarannya bersumber pada al- Qur’an dan al Hadist sejak awal telah menancapkan revolusi di bidang pendidikan dan pengajaran. Langkah yang ditempuh al Qur’an ini ternyata amat strategis dalam upaya mengangkat martabat kehidupan manusia. Kini di akui dengan jelas bahwa pendidikan merupakan jembatan yang menyeberangkan orang dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari kehinaan menuju kemuliaan, serta dari ketertindasan menjadi merdeka, dan seterusnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:2.85pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></strong><span style="font-size:15pt;font-family:HQPB2;">Dasar pelaksanaan Pendidikan Islam terutama adalah al Qur’an dan al Hadist Firman Allah :</span><span style="font-size:15pt;font-family:'Simplified Arabic';"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:150%;">“ Dan demikian kami wahyukan kepadamu wahyu (al Qur’an) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan al Qur’an itu cahaya yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benarbenar memberi petunjuk kepada jalan yang benar ( QS. Asy-Syura : 52 )”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Dan Hadis dari Nabi SAW :</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:150%;">“ Sesungguhnya orang mu’min yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak taat kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal pikirannya, serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh kemenangan ia” (al Ghazali, Ihya Ulumuddin hal. 90)”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Dari ayat dan hadis di atas tadi dapat diambil kesimpulan :</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height:150%;">1.  Bahwa al Qur’an diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk kearah jalan hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk kearah jalan yang diridloi Allah SWT.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height:150%;">2. Menurut Hadist Nabi, bahwa diantara sifat orang mukmin ialah saling menasihati untuk mengamalkan ajaran Allah, yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam bentuk pendidikan Islam.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:19.95pt;text-align:justify;text-indent:-19.95pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">3. Al Qur’an dan Hadist tersebut menerangkan bahwa nabi adalah benar-benar pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus, sehingga beliau memerintahkan kepada umatnya agar saling memberi petunjuk, memberikan bimbingan, penyuluhan, dan pendidikan Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-family:Arial;"> </span></strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Bagi umat Islam maka dasar agama Islam merupakan fondasi utama keharusan berlangsungnya pendidikan. Karena ajaran Islam bersifat universal yang kandungannya sudah tercakup seluruh aspek kehidupan ini. </span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pendidikan dalam arti umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya, serta keterampilannya kepada generasi muda untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama, dengan sebaik-baiknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Corak pendidikan itu erat hubungannya dengan corak penghidupan, karenanya jika corak penghidupan itu berubah, berubah pulalah corak pendidikannya, agar si anak siap untuk memasuki lapangan penghidupan itu. Pendidikan itu memang suatu usaha yang sangat sulit dan rumit, dan memakan waktu yang cukup banyak dan lama, terutama sekali dimasa modern dewasa ini. Pendidikan menghendaki berbagai macam teori dan pemikiran dari para ahli pendidik dan juga ahli dari filsafat, guna melancarkan jalan dan memudahkan cara-cara bagi para guru dan pendidik dalam menyampaikan ilmu pengetahuan dan pengajaran kepada para peserta didik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Kalau teori pendidikan hanyalah semata-mata teknologi, dia harus meneliti asumsi-asumsi utama tentang sifat manusia dan masyarakat yang menjadi landasan praktek pendidikan yang melaksanakan studi seperti itu sampai batas tersebut bersifat dan mengandung unsur filsafat. Memang ada resiko yang mungkin timbul dari setiap dua tendensi itu, teknologi mungkin terjerumus, tanpa dipikirkan buat memperoleh beberapa hasil konkrit yang telah dipertimbangkan sebelumnya didalam sistem pendidikan, hanya untuk membuktikan bahwa mereka dapat menyempurnakan suatu hasil dengan sukses, yang ada pada hakikatnya belum dipertimbangkan dengan hati-hati sebelumnya. Sedangkan para ahli filsafat pendidikan, sebaiknya mungkin tersesat dalam abstraksi  yang tinggi yang penuh dengan debat tiada berkeputusan,akan tetapi tanpa adanya gagasan jelas buat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang ideal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Tidak ada satupun dari permasalahan kita mendesak dapat dipecahkan dengan cepat atau dengan mengulang-ulang dengan gigih kata-kata yang hampa. Tidak dapat dihindari, bahwa orang-orang yang memperdapatkan masalah ini, apabila mereka terus berpikir,yang lebih baik daripada mengadakan reaksi, mereka tentu akan menyadari bahwa mereka itu telah membicarakan masalah yang sangat mendasar. Sebagai ajaran (doktrin) Islam mengandung sistem nilai diatas mana proses pendidikan Islam berlangsung dan dikembangkan secara konsisten menuju tujuannya. Sejalan dengan pemikiran ilmiah dan filosofis dari pemikir-pemikir sesepuh muslim, maka sistem nilai-nilai itu kemudian dijadikan dasar bangunan (struktur) pendidikan islam yang memiliki daya lentur normatif menurut kebutuhan dan kemajuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:2.85pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Pendidikan Islam mengidentifikasi sasarannya yang digali dari sumber ajarannya yaitu Al Quran dan Hadist, meliputi empat pengembangan fungsi manusia :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:20.85pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">1)<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Menyadarkan secara individual pada posisi dan fungsinya ditengah-tengah makhluk lain serta tanggung jawab dalam kehidupannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:20.85pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">2)<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Menyadarkan fungsi manusia dalam hubungannya dengan masyarakat, serta tanggung jawabnya terhadap ketertiban masyarakatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:20.85pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">3)<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Menyadarkan manusia terhadap pencipta alam dan mendorongnya untuk beribadah kepada Nya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Menyadarkan manusia tentang kedudukannya terhadap makhluk lain dan membawanya agar memahami hikmah tuhan menciptakan makhluk lain, serta memberikan kemungkinan kepada manusia untuk mengambil manfaatnya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Setelah mengikuti uraian diatas kiranya dapat diketahui bahwa Filsafat Pendidikan Islam itu merupakan suatu kajian secara filosofis mengenai masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada al Qur’an dan al Hadist sebagai sumber primer, dan pendapat para ahli, khususnya para filosof Muslim, sebagai sumber sekunder. Dengan demikian, filsafat pendidikan Islam secara singkat dapat dikatakan adalah filsafat pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam atau filsafat pendidikan yang dijiwai oleh ajaran Islam, jadi ia bukan filsafat yang bercorak liberal, bebas, tanpa batas etika sebagaimana dijumpai dalam pemikiran filsafat pada umumnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span><strong><span style="font-family:Arial;">C. Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Penjelasan mengenai ruang lingkup ini mengandung indikasi bahwa filsafat pendidikan Islam telah diakui sebagai sebuah disiplin ilmu. Hal ini dapat dilihat dari adanya beberapa sumber bacaan, khususnya buku yang menginformasikan hasil penelitian tentang filsafat pendidikan Islam. Sebagai sebuah disiplin ilmu, mau tidak mau filsafat pendidikan Islam harus menunjukkan dengan jelas mengenai bidang kajiannya atau cakupan pembahasannya. Muzayyin Arifin menyatakan bahwa mempelajari filsafat pendidikan Islam berarti memasuki arena pemikiran yang mendasar, sistematik. Logis, dan menyeluruh (universal) tentang pendidikan, ysng tidak hanya dilatarbelakangi oleh pengetahuan agama Islam saja, melainkan menuntut kita untuk mempelajari ilmu-ilmu lain yang relevan. Pendapat ini memberi petunjuk bahwa ruang lingkup filsafat Pendidikan Islam adalah masalah-masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan, seperti masalah tujuan pendidikan, masalah guru, kurikulum, metode, dan lingkungan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-family:Arial;">D. Kegunaan Filsafat Pendidikan Islam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Prof. Mohammad Athiyah abrosyi </span></em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">dalam kajiannya tentang pendidikan Islam telah menyimpulkan 5 tujuan yang asasi bagi pendidikan Islam yang diuraikan dalam “ At Tarbiyah Al Islamiyah Wa Falsafatuha “ yaitu :</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent:-18pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">1.  Untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia. Islam menetapkan bahwa pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:19.95pt;text-align:justify;text-indent:-19.95pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">2. Persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Pendidikan Islam tidak hanya menaruh perhatian pada segi keagamaan saja dan tidak hanya dari segi keduniaan saja, tetapi dia menaruh perhatian kepada keduanya sekaligus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:19.95pt;text-align:justify;text-indent:-19.95pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">3. Menumbuhkan ruh ilmiah pada pelajaran dan memuaskan untuk mengetahui dan memungkinkan ia mengkaji ilmu bukan sekedar sebagai ilmu. Dan juga agar menumbuhkan minat pada sains, sastra, kesenian, dalam berbagai jenisnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:19.95pt;text-align:justify;text-indent:-19.95pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">4. Menyiapkan pelajar dari segi profesional, teknis, dan perusahaan supaya ia dapat mengusai profesi tertentu, teknis tertentu dan perusahaan tertentu, supaya dapat ia mencari rezeki dalam hidup dengan mulia di samping memelihara dari segi kerohanian dan keagamaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:19.95pt;text-align:justify;text-indent:-19.95pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">5. Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan. Pendidikan Islam tidaklah semuanya bersifat agama atau akhlak, atau sprituil semata-mata, tetapi menaruh perhatian pada segi-segi kemanfaatan pada tujuan-tujuan, kurikulum, dan aktivitasnya. Tidak lah tercapai kesempurnaan manusia tanpa memadukan antara agama dan ilmu pengetahuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:19.95pt;text-align:justify;text-indent:-19.95pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-family:Arial;">E. Metode Pengembangan Filsafat Pendidikan Islam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Sebagai suatu metode, pengembangan filsafat pendidikan Islam biasanya memerlukan empat hal sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Pertama, bahan-bahan yang akan digunakan dalam pengembangan filsafat pendidikan. Dalam hal ini dapat berupa bahan tertulis, yaitu al Qur’an dan al Hadist yang disertai pendapat para ulama serta para filosof dan lainnya ; dan bahan yang akan di ambil dari pengalaman empirik dalam praktek kependidikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Kedua, metode pencarian bahan. Untuk mencari bahan-bahan yang bersifat tertulis dapat dilakukan melalui studi kepustakaan dan studi lapangan yang masing-masing prosedurnya telah diatur sedemikian rupa. Namun demikian, khusus dalam menggunakan al Qur’an dan al Hadist dapat digunakan jasa Ensiklopedi al Qur’an semacam<em> Mu’jam al Mufahras li Alfazh al Qur’an al Karim </em>karangan Muhammad Fuad Abd Baqi dan <em>Mu’jam al muhfars li Alfazh al Hadist </em>karangan Weinsink.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Ketiga, metode pembahasan. Untuk ini Muzayyin Arifin mengajukan alternatif metode analsis-sintesis, yaitu metode yang berdasarkan pendekatan rasional dan logis terhadap sasaran pemikiran secara induktif, dedukatif, dan analisa ilmiah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Keempat, pendekatan. Dalam hubungannya dengan pembahasan tersebut di atas harus pula dijelaskan pendekatan yang akan digunakan untuk membahas tersebut. Pendekatan ini biasanya diperlukan dalam analisa, dan berhubungan dengan teori-teori keilmuan tertentu yang akan dipilih untuk menjelaskan fenomena tertentu pula. Dalam hubungan ini pendekatan lebih merupakan pisau yang akan digunakan dalam analisa. Ia semacam paradigma (cara pandang) yang akan digunakan untuk menjelaskan suatu fenomena.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-family:Arial;">F. Penutup.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Islam dengan sumber ajarannya al Qur’an dan al Hadist yang diperkaya oleh penafsiran para ulama ternyata telah menunjukkan dengan jelas dan tinggi terhadap berbagai masalah yang terdapat dalam bidang pendidikan. Karenanya tidak heran ntuk kita katakan bahwa secara epistimologis Islam memilki konsep yang khas tentang pendidikan, yakni pendidikan Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Demikian pula pemikiran filsafat Islam yang diwariskan para filosof Muslim sangat kaya dengan bahan-bahan yang dijadikan rujukan guna membangun filsafat pendidikan Islam. Konsep ini segera akan memberikan warna tersendiri terhadap dunia pendidikan jika diterapkan secara konsisten.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Namun demikian adanya pandangan tersebut bukan berarti Islam bersikap ekslusif. Rumusan, ide dan gagasan mengenai kependidikan yang dari luar dapat saja diterima oleh Islam apabila mengandung persamaan dalam hal prinsip, atau paling kurang tidak bertentangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Tugas kita selanjutnya adalah melanjutkan penggalian secara intensif terhadap apa yang telah dilakukan oleh para ahli, karena apa yang dirumuskan para ahli tidak lebih sebagai bahan perbangdingan, zaman sekarang berbeda dengan zaman mereka dahulu. Karena itu upaya penggalian masalah kependidikan ini tidak boleh terhenti, jika kita sepakat bahwa pendidikan Islam ingin eksis ditengah-tengah percaturan global.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;">DAFTAR PUSTAKA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:16pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:48.45pt;text-indent:-48.45pt;"><strong>Ahmad Hanafi, M.A., <em>Pengantar Filsafat Islam</em>, Cet. IV, Bulan Bintang, Jakarta, 1990.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:116.85pt;text-indent:-116.85pt;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:116.85pt;text-indent:-116.85pt;"><strong>Prasetya, Drs., <em>Filsafat Pendidikan</em>, Cet. II, Pustaka Setia, Bandung, 2000</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:116.85pt;text-indent:-116.85pt;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54.15pt;text-indent:-54.15pt;"><strong>Titus, Smith, Nolan., <em>Persoalan-persoalan Filsafat</em>, Cet. I, Bulan Bintang, Jakarta, 1984.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:116.85pt;text-indent:-116.85pt;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54.15pt;text-indent:-54.15pt;"><strong>Ali Saifullah H.A., Drs., <em>Antara Filsafat dan Pendidikan</em>, Usaha Nasional, Surabaya, 1983.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54.15pt;text-indent:-54.15pt;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54.15pt;text-indent:-54.15pt;"><strong>Zuhairini. Dra, dkk., <em>Filsafat Pendidikan Islam</em></strong><em>, </em><strong><em> </em></strong><strong>Cet.II<em>, </em>Bumi Aksara, Jakarta, 1995.</strong></p>
<p class="MsoNormal">
<p><strong>Abuddin Nata, M.A., <em>Filsafat Pendidikan Islam, </em>Cet. I, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wdpunya.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wdpunya.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wdpunya.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wdpunya.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wdpunya.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wdpunya.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wdpunya.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wdpunya.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wdpunya.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wdpunya.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wdpunya.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wdpunya.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wdpunya.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wdpunya.wordpress.com/129/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wdpunya.wordpress.com&amp;blog=5401590&amp;post=129&amp;subd=wdpunya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wdpunya.wordpress.com/2009/01/15/filsafat-pendidikan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4de55b423ec4c9136e043675f10c282b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wdpunya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Pendidikan Islam</title>
		<link>http://wdpunya.wordpress.com/2009/01/13/125/</link>
		<comments>http://wdpunya.wordpress.com/2009/01/13/125/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jan 2009 20:10:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wdpunya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[pentingnya pendidikan islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wdpunya.wordpress.com/2009/01/13/125/</guid>
		<description><![CDATA[I. Pendahuluan Islam diturunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Untuk mengenalkan Islam ini diutus Rasulullah SAW. Tujuan utamanya adalah memperbaiki manusia untuk kembali kepada Allah SWT. Oleh karena itu selam kurang lebih 23 tahun Rasulullah SAW membina dan memperbaiki manusia melalui pendidikan. Pendidikanlah yang mengantarkan manusia pada derajat yang tinggi, yaitu orang-orang yang berilmu. Ilmu yang dipandu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wdpunya.wordpress.com&amp;blog=5401590&amp;post=125&amp;subd=wdpunya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="snap_preview">
<p><span style="color:#999999;">I. Pendahuluan</span></p>
<p><span style="color:#999999;">Islam diturunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Untuk mengenalkan Islam ini diutus Rasulullah SAW. Tujuan utamanya adalah memperbaiki manusia untuk kembali kepada Allah SWT.<span id="more-125"></span> Oleh karena itu selam kurang lebih 23 tahun Rasulullah SAW membina dan memperbaiki manusia melalui pendidikan. Pendidikanlah yang mengantarkan manusia pada derajat yang tinggi, yaitu orang-orang yang berilmu. Ilmu yang dipandu dengan keimanan inilah yang mampu melanjutkan warisan berharga berupa ketaqwaan kepada Allah SWT. <!--more--></span></p>
<p><span style="color:#999999;">Manusia mendapat kehormatan menjadi khalifah di muka bumi untuk mengolah alam beserta isinya. Hanya dengan ilmu dan iman sajalah tugas kekhalifahan dapat ditunaikan menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seluruh makhluk-Nya. Tanpa iman akal akan berjalan sendirian sehingga akan muncul kerusakan di muka bumi dan itu akan membahayakan manusia. Demikian pula sebaliknya iman tanpa didasari dengan ilmu akan mudah terpedaya dan tidak mengerti bagaimana mengolahnya menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seisinya.</span></p>
<p><span style="color:#999999;">Sedemikian pentingnya ilmu, maka tidak heran orang-orang yang berilmu mendapat posisi yang tinggi baik di sisi Allah maupun manusia. (QS. Al Mujadilah (5 <img class="wp-smiley" src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif" alt="8)" /> : 11)</span></p>
<p><span style="color:#999999;">Bahkan syaithan kewalahan terhadap orang muslim yang berilmu, karena dengan ilmunya, ia tidak mudah terpedaya oleh tipu muslihat syaithan.</span></p>
<p><span style="color:#999999;">Muadz bin Jabal ra. berkata: “Andaikata orang yang beakal itu mempunyai dosa pada pagi dan sore hari sebanyak bilangan pasir, maka akhirnya dia cenderung masih bisa selamat dari dosa tersebut namun sebaliknya, andaikata orang bodoh itu mempunyai kebaikan dan kebajikan pada pagi dan sore hari sebanyak bilangan pasir, maka akhirnya ia cenderung tidak bisa mempertahankannya sekalipun hanya seberat biji sawi.”</span></p>
<p><span style="color:#999999;">Ada yang bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Ia menjawab, “Sesungguhnya jika orang berakal itu tergelincir, maka ia segera menyadarinya dengan cara bertaubat, dan menggunakan akal yang dianugerahkan kepadanya. Tetapi orang bodoh itu ibarat orang yang membangun dan langsung merobohkannya karena kebodohannya ia terlalu mudah melakukan apa yang bisa merusak amal shalihnya.”</span></p>
<p><span style="color:#999999;">Kebodohan adalah salah satu faktor yang menghalangi masuknya cahaya Islam. Oleh karena itu, manusia butuh terapi agar menjadi makhluk yang mulia dan dimuliakan oleh Allah SWT. Kemuliaan manusia terletak pada akal yang dianugerahi Allah. Akal ini digunakan untuk mendidik dirinya sehingga memiliki ilmu untuk mengenal penciptanya dan beribadah kepada-Nya dengan benar. Itulah sebabnya Rasulullah SAW menggunakan metode pendidikan untuk memperbaiki manusia, karena dengan pendidikanlah manusia memiliki ilmu yang benar. Dengan demikian, ia terhindar dari ketergelinciran pada maksiat, kelemahan, kemiskinan dan terpecah belah.</span></p>
<p><span style="color:#999999;">II. Pentingnya Pendidikan Islam</span></p>
<p><span style="color:#999999;">Pendidikan merupakan kata kunci untuk setiap manusia agar ia mendapatkan ilmu. Hanya dengan pendidikanlah ilmu akan didapat dan diserap dengan baik. Tak heran bila kini pemerintah mewajibkan program belajar 9 tahun agar masyarakat menjadi pandai dan beradab. Pendidikan juga merupakan metode pendekatan yang sesuai dengan fitrah manusia yang memiliki fase tahapan dalam pertumbuhan.</span></p>
<p><span style="color:#999999;">Pendidikan Islam memiliki 3 (tiga) tahapan kegiatan, yaitu: tilawah (membacakan ayat Allah), tazkiyah (mensucikan jiwa) dan ta’limul kitab wa sunnah (mengajarkan al kitab dan al hikmah). Pendidikan dapat merubah masyarakat jahiliyah menjadi umat terbaik disebabkan pendidikan mempunyai kelebihan. Pendidikan mempunyai ciri pembentukan pemahaman Islam yang utuh dan menyeluruh, pemeliharaan apa yang telah dipelajarinya, pengembangan atas ilmu yang diperolehnya dan agar tetap pada rel syariah. Hasil dari pendidikan Islam akan membentuk jiwa yang tenang, akal yang cerdas dan fisik yang kuat serta banyak beramal.</span></p>
<p><span style="color:#999999;">Pendidikan Islam berpadu dalam pendidikan ruhiyah, fikriyah (pemahaman/pemikiran) dan amaliyah (aktivitas). Nilai Islam ditanamkan dalam individu membutuhkan tahpan-tahapan selanjutnya dikembangkan kepada pemberdayaan di segala sektor kehidupan manusia. Potensi yang dikembangkan kemudian diarahkan kepada pengaktualan potensi dengan memasuki berbagai bidang kehidupan. (QS. Ali Imran (3) : 103)</span></p>
<p><span style="color:#999999;">Pendidikan yang diajarkan Allah SWT melalui Rasul-Nya bersumber kepada Al Qur’an sebagai rujukan dan pendekatan agar dengan tarbiyah akan membentuk masyarakat yang sadar dan menjadikan Allah sebagai Ilah saja. </span></p>
<p><span style="color:#999999;">Kehidupan mereka akan selamat di dunia dan akhirat. Hasil ilmu yang diperolehnya adalah kenikmatan yang besar, yaitu berupa pengetahuan, harga diri, kekuatan dan persatuan. </span></p>
<p><span style="color:#999999;">Tujuan utama dalam pendidikan Islam adalah agar manusia memiliki gambaran tentang Islam yang jelas, utuh dan menyeluruh. </span></p>
<p><span style="color:#999999;">Interaksi di dalam diri ini memberi pengaruh kepada penampilan, sikap, tingkah laku dan amalnya sehingga menghasilkan akhlaq yang baik. Akhlaq ini perlu dan harus dilatih melalui latihan membaca dan mengkaji Al Qur’an, sholat malam, shoum (puasa) sunnah, berhubungan kepada keluarga dan masyarakat. Semakin sering ia melakukan latihan, maka semakin banyak amalnya dan semakin mudah ia melakukan kebajikan. Selain itu latihan akan menghantarkan dirinya memiliki kebiasaan yang akhirnya menjadi gaya hidup sehari-hari.</span></p>
<p><span style="color:#999999;">III. Kesinambungan dalam Pendidikan Islam</span></p>
<p><span style="color:#999999;">Pendidikan Islam dalam bahasa Arab disebut tarbiyah Islamiyah merupakan hak dan kewajiban dalam setiap insan yang ingin menyelamatkan dirinya di dunia dan akhirat. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai akhir hayat.” Maka menuntut ilmu untuk mendidik diri memahami Islam tidak ada istilah berhenti, semaki banyak ilmu yang kita peroleh maka kita bertanggung jawab untuk meneruskan kepada orang lain untuk mendapatkan kenikmatan berilmu, disinilah letak kesinambungan.</span></p>
<p><span style="color:#999999;">Selain merupakan kewajiban, kegiatan dididik dan mendidik adalah suatu usaha agar dapat memiliki ma’dzirah (alasan) untuk berlepas diri bila kelak diminta pertanggungjawaban di sisi Allah SWT yakni telah dilakukan usaha optimal untuk memperbaiki diri dan mengajak orang lain pada kebenaran sesuai manhaj yang diajarkan Rasulullah SAW.</span></p>
<p><span style="color:#999999;">Untuk menghasilkan Pendidikan Islam yang berkesinambungan maka dibutuhkan beberapa sarana, baik yang mendidik maupun yang dididik, yaitu:</span></p>
<p><span style="color:#999999;">1. Istiqomah</span></p>
<p><span style="color:#999999;">Setiap kita harus istiqomah terus belajar dan menggali ilmu Allah, tak ada kata tua dalam belajar, QS. Hud (11) : 112, QS. Al Kahfi (1 <img class="wp-smiley" src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif" alt="8)" /> : 28</span></p>
<p><span style="color:#999999;">2. Disiplin dalam tanggung jawab</span></p>
<p><span style="color:#999999;">Dalam belajar tentu kita membutuhkan waktu untuk kegiatan tersebut. sekiranya salah satu dari kita tidak hadir, maka akan mengganggu proses belajar. Apabila kita sering bolos sekolah, apakah kita akan mendapatkan ilmu yang maksimal. Kita akan tertinggal dengan teman-teman kita, demikian pula dengan guru, apabila ia sering membolos tentu anak didiknya tidak akan maju karena pelajaran tidak bertambah.</span></p>
<p><span style="color:#999999;">3. Menyuruh memainkan peran dalam pendidikan</span></p>
<p><span style="color:#999999;">Setiap kita dituntut untuk memerankan diri sebagai seorang guru pada saat-saat tertentu, memerankan fungsi mengayomi, saat yang lainnya berperan sebagai teman. Demikiannya semua peran digunakan untuk memaksimalkan kegiatan pendidikan.<br />
Referensi : </span></p>
<p><span style="color:#999999;">1. Tarbiyah Islamiyah Harokiyah, DR. Irwan Prayitno<br />
2. Tarbiyah Menjawab Tantangan, Mahfudz Siddiq</span></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wdpunya.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wdpunya.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wdpunya.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wdpunya.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wdpunya.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wdpunya.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wdpunya.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wdpunya.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wdpunya.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wdpunya.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wdpunya.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wdpunya.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wdpunya.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wdpunya.wordpress.com/125/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wdpunya.wordpress.com&amp;blog=5401590&amp;post=125&amp;subd=wdpunya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wdpunya.wordpress.com/2009/01/13/125/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4de55b423ec4c9136e043675f10c282b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wdpunya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif" medium="image">
			<media:title type="html">8)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif" medium="image">
			<media:title type="html">8)</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
